Geo Bike Kaldera Toba 2016 Start dari Silalahi

item-thumbnail
Foto-Sepeda-dan-Peserta-Geobike-Kaldera-Toba
Sepeda para peserta Geo Bike Kaldera Toba 2016 saat diparkir di sela acara pembukaan di Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, Sabtu (9/4/2016).
Geo Bike Kaldera Toba 2016 yang dilaksanakan Jendela Toba dan Rumah Karya Indonesia dimulai dari Silalahi, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, Sabtu (9/4/2016).
Bersepeda mengelilingi kawasan Danau Toba ini dimulai dengan acara tarian penyambutan tamu yang dilakukan pihak Pemkab Dairi.
Irwansyah Harahap selaku Ketua Jendela Toba dalam sambutannya mengatakan bahwa kegiatan ini terlaksana atas kerja sama Jendela Toba dan Rumah Karya Indonesia dan dukungan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan tujuh kabupaten di kawasan Danau Toba.
Kegiatan juga berkait dalam rangka HUT ke-68 Pemerintah Provinsi Sumatera Utara serta untuk mendukung Danau Toba masuk dalam Geopark Global Networking oleh Unesco.
Sekretaris Daerah Kabupaten Dairi, Sebastian Tinambunan, mewakili Pemerintah Kabupaten Dairi menyambut baik kegiatan Geobike Kaldera Toba untuk meningkatkan pariwisata Kabupaten Dairi yang kelak dapat meningkatkan pendapatan masyarakat.
Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Utara Hasban Ritonga yang sekaligus membuka acara, menyampaikan bahwa komitmen untuk Danau Toba patut diseriusi dan diperlukan sinergitas yang baik antara pemerintah dan masyarakat untuk mendorong Danau Toba menjadi ikon pariwisata Indonesia.
Kegiatan yang digagas oleh Jendela Toba dan Rumah Karya Indonesia merupakan tahun kedua, kegiatan ini dilakukan mulai 2015 dan Geo Bike Kaldera Toba diikuti sekitar 200 peserta berasal dari beberapa kota di Indonesia di antaranya dari Yogyakarta, Jakarta, Bandung, Medan, Siantar, Aceh, Ketapang, Bengkalis, Kalimantan dan Makassar.
Ada pun yang berbeda dibandingkan kegaitan sebelumnya yakni tahun ini lebih mengekspos seluruh kawasan di sekitar Danau Toba yang dulunnya hanya lima kabupaten sekarang menjadi tujuh kabupaten yakni Kabupaten Dairi, Karo, Simalungun, Toba Samosir, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan dan Samosir.
Kegiatan diawali pada 8 April 2016 dengan panggung rakyat yang dilakukan di Silalahi, Kabupaten Dairi dengan menampilkan seniman lokal di antaranya Bandipos, mewakili Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olarahraga Kabupaten Dairi.

Sumber: Kompas.com
Read more »

Asyiknya Jelajah Toba dengan Bersepeda

item-thumbnail
DANAU Toba menyimpan sejuta wisata. Keindahan Danau Toba memiliki daya pikat sendiri hingga wisatawan penjuru kota hingga negara datang karena penasaran.
Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, menjadi sudut terbaik yang paling diminati dan dikunjungi wisatawan.

Wisata sekadar berkeliling danau mungkin kurang menantang. Ada paket wisata jelajah Geo Bike Toba untuk memenuhi hasrat wisata jelajah dengan cara berbeda dan memacu adrenalin.

Marwan Syahputra, pemilik tur wisata Sohib Nature menyediakan beberapa paket Cycling 
Bersepeda di Samosir, melihat panorama Danau Toba, Sumatera Utara.
Bersepeda di Samosir, melihat panorama Danau Toba, Sumatera Utara.
Trip di Kawasan Geopark Kaldera Toba.

Ada Paket Ekonomis 1 hari dengan biaya paket sepeda dan helm Rp 350.000 atau Rp 25.000 jika membawa sepeda sendiri.
Harga tersebut sudah termasuk transportasi (pick up, sepeda di atas dan pesepeda di bawah), guide, tim marshall, mekanik, makan siang,coffee break, perlengkapan P3K, retribusi, perizinan, dokumentasi kegiatan.
Ada juga paket 2 hari 1 malam. Harga paketnya sebesar Rp 1,3 juta jika bawa sepeda sendiri atau Rp 1.450.000 sudah termasuk sewa sepeda dan helm.

Fasilitasnya antara lain transportasi mobil atau mimi bus, guide, timmarshall, mekanik, penginapan (hot water dan ada koneksi internet dengan Wifi), konsumsi 5 kali makan, coffee break, perlengkapan P3K, retribusi, perizinan, dokumentasi kegiatan.

"Untuk libur panjang ada paket ekonomis 3 hari 2 malam, biaya paket sepeda dan helm Rp 1,450 juta atau Rp 1,3 juta jika membawa sepeda sendiri," jelasnya.

Menurut Bani, peserta jelajah tersebut, "Enjoy Danau Toba" tidak melulu soal melihat pemandangan atau naik sampan bebek. Tetapi bisa juga dengan kegiatan yang menantang dan menyusuri tiap sudut terbaiknya dari desa-desa di Samosir.

"Medannya cocok untuk naik sepeda gunung, yang hobi naik sepedaantrip ini sangat cocok untuk diikuti tapi kalau untuk awam mungkin harus latihan minimal sebulan untuk pemanasan dan pertahanan fisik," jelasnya. (Tribun Medan/Silfa Humairah)
Read more »

Air Terjun Sipiso-piso

item-thumbnail



Air Terjun Sipiso-piso merupakan salah satu tempat wisata di Pulau Sumatera. Lokasinya berada di Kabupaten Karo, Sumatera Utara dan tidak begitu jauh dari pemukiman penduduk Desa Tongging. Air terjun ini berada di  ketinggian sekitar 800 mdpl dan dikelilingi oleh hutan pinus. Pengelolaan wisata alam air terjun ini dilakukan oleh Pemda Kabupaten Karo. Dengan ketinggian sekitar 120 meter, Air Terjun Sipiso-piso merupakan salah satu air terjun tertinggi di Indonesia.

Objek Wisata

Air Terjun Sipiso-piso Sumatera Utara
Anda akan terkagum-kagum dengan pesona Air Terjun Sipiso-piso, ketika Anda berada di Desa Tongging, tempat di mana air terjun ini berada. Sebelum Anda melihat air terjun ini dari dekat, berkunjunglah di gardu pandang yang terletak di puncak bukit. Anda akan melihat hamparan keindahan Tanah Karo. Dari gardu pandang ini juga, Anda dapat menikmati keindahan Pulau Samosir, pulau yang berada di tengah Danau Toba.
Pemandangan Danau Toba dari  Air Terjun Sipiso-piso
Setelah Anda puas menikmati pemandangan nan indah dari jauh, Anda dapat melanjutkan perjalanan menelusuri punggungan bukit untuk bercengkerama dengan keindahan Air Terjun Sipiso-piso. Namun, Anda tidak perlu khawatir dalam menelusuri punggungan bukit tersebut, karena sudah disediakan jalur yang berupa anak tangga dan memang disediakan untuk para wisatawan. Perjalanan memakan waktu sekitar 1 jam untuk mencapai dasar air terjun ini. Dalam perjalanan tersebut, jangan lupa untuk mengabadikan momen indah ini dengan berfoto-foto dengan latar belakang Danau Toba.
Pesona Keindahan Air terjun sipiso-piso
Sesampainya di dasar air terjun, arahkan pandangan Anda ke bukit-bukit yang ada di sekeliling air terjun. Dengan perpaduan hijaunya pepohonan pinus yang rimbun dan suara gemuruh air terjun, membuat suasana hati dan pikiran Anda terasa damai dan tenteram. Jangan lupa untuk membawa bekal makanan untuk dinikmati bersama keluarga Anda setelah lelah bermain air di Air Terjun Sipiso-piso.

Letak Lokasi

Air Terjun Sipiso-piso berada di Desa Tongging, Kec. Merek, Kab. Karo, Sumatra Utara. Kecamatan Merek terletak kurang lebih 24 km dari Kota Kabanjahe.


Kesampaian ke Lokasi

Untuk sampai ke lokasi ini Anda bisa menggunakan transportasi umum dari Medan, Sumatera Utara. Anda dapat menggunakan bus dengan jurusan Kota Kabanjahe dengan waktu kurang lebih 2 jam. Kemudian, setelah sampai di Kabanjahe, perjalanan dilanjutkan dengan bus menuju Danau Toba. Perjalanan memakan waktu sekitar 30 menit dengan jarak tempuh sekitar 24 Km.

Fasilitas dan Akomodasi

Beberapa fasilitas di Air Terjun Sipiso-piso cukup memadai, seperti tersedianya lahan parkir dan warung makan. Untuk penginapan Anda bisa menemukannya di Desa Tongging dan Desa Kabanjahe. Untuk membeli oleh-oleh bagi kerabat atau teman, Anda bisa membelinya di toko souvenir yang ada di tempat wisata ini.
Read more »

Desa Wisata di Sumatera utara



Desa wisata adalah kawasan yang memiliki potensi budaya tradisional yang masih asli seperti mata pencaharian, kesenian, kuliner dan adat istiadat, ditambah keindahan alam menjadi factor penentu layak atau tidaknya suatu wilayah disebut sebagai suatu desa wisata. Didukung oleh saranan dan prasarana dan kesampaian suatu desa merupakan pendukung penting dalam pengembangan pariwisata sehingga desa wisata harus memiliki persayaratan tersebut.
Ada beberapa desa yang bias dikembangkan menjadi desa wisata, antara lain:

Desa Wisata Tuktuk Siadong
Berada di semenanjung kecil kawasan Pulau Samosir yang dikelilingi danau Toba, dengan pemandangan yang bagus sekali menjadikan lokasi ini menjadi salah satu desa Wisata yang sudah dikenal lama. Sarana dan prasarana sebagai desa wisata sudah sangat memadai, terdapat fasilitas hotel atau penginapan yang lumayan banyak, dan terdapat juga beberapa restaurant dan café. Ditunjang oleh berbagai kesenian khas Batak yang dapat dinikmati di desa ini.
Desa ini dapat dicapai dengan menyeberang dari Parapat dengan menggunakan fasilitas kapal ferry dengan waktu tempuh kurang dari satu jam. Keindahan alam danau Toba yang terlihat dari desa ini sangat indah untuk dinikmati dan kebudayaan Batak dengan beragam kesenian sangat memikat pelancong untuk berlibur di daerah ini.

Desa Wisata Jangga
Di lokasi desa ini pelancong bisa menikmati keragaman kesenian Batak yang berupa tor-tor, rumah adat, patung sigale-gale, museum etnik Batak. Dengan mengunjungi desa ini pengunjung bisa merasakan suasana budaya batak lewat pertunjukan kesenian dan benda-benda etnik yang ada tersedia disana. Lokasi desa ini tidak terlalu jauh dari desa Tuktuk Siadong.


Itulah dua desa wisata yang berada di sekitar danau Toba.
Read more »

Pusukbuhit Sisa Supervolcano di Tepi Danau Toba

item-thumbnail
supervolcano
Gunung Pusukbuhit yang disakralkan. Warna putih adalah solfatara. Foto: Oki Oktariadi
Danau Toba yang berada di jalur sesar aktif Sumatra sejatinya merupakan kaldera hasil letusan gunung api raksasa (supervolcano) yang diperkirakan terbentuk sejak 1 juta hingga 74 ribu tahun lalu. Letusan dahsyat itu mempengaruhi iklim dan meluluhlantakkan sebagian peradaban dunia. Saat ini, di Kawasan Toba tersaji keindahan alam yang menakjubkan, sementara aktivitas vulkanismenya seolah tertidur nyenyak. Namun, hakikatnya vulkanisme Toba tetap berlangsung. Tandanya adalah kehadiran Gunung Pusukbuhit yang di tepi danau. Bagi masyarakat Batak, gunung api bertipe B ini adalah tempat diturunkannya Raja Batak dari langit. Berbagai upacara adat dilakukan di lokasi ini, seperti perkawinan, syukuran hasil panen. Bahkan memohon doa restu sebelum berangkat merantau. Itulah sebabnya Pusukbuhit sangat disakralkan.
Danau Toba merupakan bagian dari dataran tinggi yang meliputi dua belas kabupaten/kota di Provinsi Sumatra Utara. Untuk mencapainya dari Medan dapat menggunakan bus melalui Parapat selama sekitar 5 jam. Alternatif lain, dapat menggunakan kereta api jalur Pematangsiantar atau Tebingtinggi, dilanjutkan dengan kendaraan roda empat menuju Parapat.
Kaldera Toba merupakan salah satu fitur vulkanik yang luar biasa yang terbentuk selama dua setengah juta tahun yang lalu. Penelitian mengenai Kaldera Toba hingga kini menghasilkan informasi yang penting dalam ilmu kebumian, khususnya kegunungapian. Informasi itu antara lain pola pembentukan bentang alam, adanya kaldera silikat, evolusi geokimia, pola periodik letusan, juga menggambarkan pola migrasi aktivitas vulkanik ke barat yang menghasilkan letusan supervolcano.
supervolcano
Peta lokasi Danau Toba, Sumatera Utara. Sumber: Atlas Nasional
Danau Toba merupakan kaldera yang sangat besar berukuran 30 hingga 100 km. Tinggi reliefnya mencapai 1.700 m. Kaldera ini terbentuk dalam beberapa periode letusan, yang terjadi pada 840.000, 700.000, dan 75.000 tahun yang lalu. Van Bemmelen (1949) berpendapat, sejarah pembentukan Danau Toba diawali dengan terbentuknya Tumor Batak seluas 300 km2 di antara Sungai Wampu di bagian utara dan Sungai Barumun di selatan. Pembentukan kubah (dome) akibat pengangkatan setinggi 2.000 meter itu ditunjukkan oleh puncak pegunungan seperti Gunung Sibuatan (2.457 m) di barat laut, Gunung Pangulubao (2.151 m) di timur, Gunung Surungan (2.173 m) di tenggara, dan Gunung Uludarat (2.157 m) di sebelah barat.
Letusan Supervocano dan dampaknya terhadap kehidupan
Letusan kolosal yang terjadi pada 74.000 tahun yang lalu menghasilkan endapan lapilli (Toba Muda Kerikil) yang ditemukan hingga ke wilayah India, yang berjarak sekitar 3.000 km dari pusat letusan. Seluruh permukaan Anak Benua India tertutupi material letusan dengan ketebalan rata-rata 15 cm dan tertinggi 6 m. Hal tersebut terbukti dengan adanya abu riolit di sekitar Danau Toba yang sama dengan temuan di Malaysia dan India, bahkan di dasar lautan India Timur dan perairan Teluk Bengal, kurang lebih 3.100 km dari Toba. Bill Rose dan Craig Chesner dari Michigan Technological University menyimpulkan, total material letusan gunung api raksasa ini sekitar 2.800 km3. Sebanyak 800 km3 ignimbrit mengalir di dataran dan diperkirakan 2.000 km3 sebagai abu yang diterbangkan angin ke arah barat.
Debu vulkanik yang disemburkan ke angkasa saat letusan dahsyat yang berlangsung selama dua minggu tanpa henti itu membentuk tirai penghalang cahaya matahari yang sangat tebal di lapisan stratosfer. Hal itu menyebabkan intensitas cahaya matahari yang jatuh ke permukaan Bumi menurun drastic, tinggal 1% dari nilai normalnya. Dampaknya, suhu global menurun hingga 3 – 3,5Âş C dari suhu normal dan memicu terjadinya salah satu zaman es dan tumbuh-tumbuhan tidak bisa berfotosintesis selama beberapa lama. Bahkan, debu vulkanik yang mengandung sulfur itu membeku dalam lapisan es di Greenland.
supervolcano
Mata air panas di kaki Gunung Pusukbuhit. Foto: Oki Oktariadi
Ambrose (1998), yang meneliti DNA manusia purba, menyebutkan saat itu terjadi “genetic bottleneck” yang ditandai berkurangnya kelimpahan genetik dan populasi manusia. Lebih jauh disebutkan, jumlah manusia saat itu (generasi Homo sapiens awal seperti Homo Sapiens Neanderthalensis dan sejenisnya) merosot hingga tinggal 10 % dari populasi semula. Bahkan, akibat letusan raksasa Toba diduga menyebabkan Homo Neanderthalensis berevolusi menjadi lebih lemah.
Katastrofik berikutnya terjadi pada 12.900 tahun silam di ujung zaman es. Saat itu asteroid/ komet berdiameter 5 km jatuh ke Bumi dan meledak pada ketinggian 60 km di atas Eropa–Amerika. Ledakannya melepaskan energi 10 juta megaton TNT. Manusia neanderthal itu tidak sanggup lagi bertahan dan punah bersama kawanan mammoth, sang gajah raksasa. Stephen Oppenheimer, dalam Journey of Mankind Interactive Trail Adapted from “Out Of Eden”/ “The Real Eve” (2003) menyebutkan ras manusia berkurang menjadi hanya beberapa ribu orang akibat letusan Toba.
Ketebalan endapan Tuff Muda Toba yang terdapat pada dinding kaldera mencapai 400 m. Di Pulau Samosir, endapan tuff tersebut mencapai tebal > 600 m. Secara keseluruhan debu vulkanik diperkirakan menutupi area sedikitnya 4 juta km2, sekitar separuh ukuran benua Amerika Serikat. Itulah sebabnya Letusan Toba tersebut pantas disebut sebagai supervolcano.
Lama berselang, lambat laun kaldera terisi air dan terciptalah Danau Toba. Orang seolah melupakan gunung api raksasa yang pernah ada karena secara fisik memang sudah tidak nampak. Pada hakikatnya fenomena Gunung Raksasa Toba yang legendaris itu tidak hilang begitu saja. Kehadiran Gunung Pusukbuhit yang menyebarkan aroma belerang khas gunung api dari lapangan solfatara, masih menyimpan kenangan itu. Ini bisa diartikan aktivitas vulkanisme di Kompleks Kaldera Toba belum sirna, meskipun tubuhnya tidak lagi berukuran raksasa.
Gunung Pusukbuhit, yang disebut juga Busukbukit, berada pada posisi geografi 2o 37’ Lintang Utara dan 98o 39’ Bujur Timur mencapai tinggi 1.981 m atau 1.075 m di atas permukaan Danau Toba (Neumann van Padang, 1951). Ada tiga kecamatan yang berada di sekitar gunung tersebut, yakni Kecamatan Sianjur Mula-mula, Pangururan, dan Harian Boho. Aktivitas vulkanismenya masuk ke dalam wilayah Kecamatan Sianjur Mula-mula.
supervolcano
Polatektonik yang mempengaruhi KalderaToba, (PetaTektonikdimodifikasi dariSimkineta, 2006).
Mitos dan Tradisi Masyarakat Toba
Bagi masyarakat yang bersandar kepada kelisanan, hal-hal yang berada di luar kemampuan nalarnya dihubungkan dengan kekuatan gaib. Untuk berkomunikasi dengan alam gaib yang ada di sekitarnya, mereka melakukan upacara yang disertai sesajen dan doa. Upacara tersebut sesungguhnya dimaksudkan agar tercipta keseimbangan antara manusia dan alam sekitarnya.
Itupun terjadi pada masyarakat sekitar Danau Toba. Mereka percaya, Gunung Pusukbuhit adalah tempat turunnya Raja Batak. Konon, Siboru Deak Parujar, dewi cantik, turun dari kayangan karena tidak mau dijodohkan dengan Siraja Odap-Odap, meskipun keduanya keturunan dewa. Selain Siraja, ada raksasa bernama Naga Padoha Niaji yang juga jatuh hati kepada Siboru. Karena cintanya ditolak, maka setiap saat sang raksasa selalu mengganggu dengan menggoyang tempat tinggal Siboru dan mengakibatkan gempa bumi. Demi ketentraman tempat tinggalnya, maka Siboru menerima pinangan Siraja Odap-Odap agar menjadi pelindungnya. Mereka mempunyai banyak keturunan. Di antaranya, Raja Batak yang diturunkan di Busukbuhit.
Sang Raja kemudian membangun perkampungan di lembah gunung Sianjur Mula-mula. Perkampungan itu berada di garis lingkar Pusukbuhit di lembah Sagala dan Limbong Mulana. Secara turun-temurun kampung ini menjadi tempat upacara pemujaan dan permohonan doa agar selamat dari bencana, gagal panen, dan wabah penyakit. Tradisi ini membuat masyarakat Batak Toba merasa aman dan nyaman tinggal di wilayah Samosir dan sekitarnya. Mereka juga tidak merasa takut gunung api meletus.
Teror Gempa bumi dan Letusan Gunung Sinabung
Rasa aman dan nyaman yang dinikmati masyarakat Toba dan sekitarnya selama ini terusik isu gempa bumi akibat penunjaman megathrust Sumatra-Andaman yang diprediksi terjadi pada 2004 dengan besaran 9,15 Mw. Kabar burung itu tidak terbukti. Tetapi muncul kekhawatiran lainnya. Meletusnya Gunung Sinabung, Sumatra Utara, yang juga tipe B, membuat masyarakat Toba ketar-ketir. Akankah Pusukbuhit juga segera menyusul?
Kekhawatiran itu bukannya tanpa alasan. Krakatau bangkit dari tidur panjangnya selama 200-an tahun setelah gempa bumi mengguncang kawasan Selat Sunda di awal 1883. Namun, yang agak melegakan adalah gempa bumi besar yang menyebabkan tsunami di Aceh pada tahun 2004 tidak mengusik satu pun gunung api di wilayah itu. Boleh jadi pelepasan energi yang terkumulasi selama ini telah terbebas oleh gempa bumi.
supervolcano
Lembah Sagala dengan hijauanya sawah yang menjadi sumber kehidupan masyarakat. Foto: Oki Oktariadi
Kearifan Lokal dan Mitigasi Bencana
Letusan gunung api raksasa itu akhirnya membawa berkah. Keindahan alam, air yang melimpah, hasil ikan Danau Toba dan adanya mata air panas mengundang
wisatawan lokal dan mancanagara. Itu semua berati tambahan penghasilan bagi penduduk dan pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Samosir.
Fenomena Gunung Pusukbuhit juga menarik perhatian berbagai disiplin ilmu, di antaranya geologi lingkungan, vulkanologi, atau antroplogi. Dari sudut pandang geologi lingkungan, Pusukbuhit dianggap sebagai situs cagar alam geologi yang menggambarkan Danau Toba dibentuk oleh aktivitas tektonik dan vulkanisme di masa lalu dan dapat dijadikan objek geowisata.
Dari segi kegunungapian, Pusukbuhit adalah gunung api yang memiliki kawah, tetapi tidak diketahui waktu letusannya di masa lalu. Gunung api tipe B ini dapat meletus seperti Sinabung, meskipun kemungkinannya sangat kecil. Pakar antropologi menyebutkan bahwa, Pusukbuhit disakralkan masyarakat Batak yang memiliki hubungan mitologis bernuansa sejarah.
Pada lereng Pusukbuhit, barisan rumah penduduk melingkari gunung. Di depannya terdapat lapangan luas yang tidak becek dan juga tidak berdebu. Kondisi lingkungan yang disebut huta ini pada umumnya berorientasi ke arah Pusukbuhit, namun ada beberapa yang berorientasi ke bukit terdekat.
Menurut Sitor Situmorang, huta merupakan tempat kediaman yang selalu berada di lereng bukit atau gunung dan tidak dipergunakan sebagai persawahan. Hal tersebut dihubungkan dengan konsep Pusukbuhit sebagai kiblatnya orang Batak. Karena kawasan tersebut merupakan tempat keramat untuk berbagai upacara.
supervolcano
Sopo Guru Tatea Bulan di Kecamatan Sianjur Mula Mula, Kabupaten Samosir, tempat turunnya Raja Batak. Foto: Oki Oktariadi
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan pada beberapa lokasi, umumnya penempatan lokasi pemukiman berada di dasar lembah pada lereng bagian atas punggungan bukit yang merupakan bahan rombakan (longsoran lama) yang cukup stabil. Tentunya tempat seperti itu dari sudut pandang hidrogeologi banyak mengandung sumber air tanah dangkal maupun mata air yang dibutuhkan pemukim. Sementara jalan-jalan antar huta dibuat dengan memangkas bagian lereng bukitnya dan batas-batas huta adalah sisa hasil pemangkasan tersebut yang juga berfungsi sebagai benteng tanah dari huta.
Keberadaan benteng batu kemungkinan juga dihubungkan dengan faktor keamanan dari serangan musuh dan binatang buas. Benteng huta ini juga dihubungkan dengan kepercayaan sebagai tembok magis penangkal pengaruh buruk dari luar yang dapat mengganggu huta, baik wabah penyakit maupun roh-roh jahat. Selain itu, benteng huta dihubungkan dengan kepercayaan bahwa leluhur harus ditempatkan pada tempat yang berada di atas supaya dapat terus melihat dan membimbing anak dan cucunya.
Kearifan lokal yang dikembangkan masyarakat Batak di Kawasan Toba secara tidak langsung telah memperhatikan kaidah-kaidah geologi lingkungan yang berkaitan dengan potensi sumber daya dan bahaya geologi yang ada disekitar huta. Misalnya, cara pemilihan lokasi dan pengelolaan lahan yang dapat diartikan sebagai upaya agar masyarakat tidak mengganggu areal persawahan yang berada di dasar lembah yang mengelilingi huta. Contoh lainnya, memindahkan material batuan pada lokasi pilihan dan menyusunnya menjadi benteng huta untuk menjaga huta dari pengaruh cuaca yang berubahubah, terutama angin.
Huta sebagai pemukiman tradisional Batak Toba merupakan hasil adaptasi lingkungan masyarakat di sana untuk menjawab tantangan alam. Namun keadaan tersebut lambat laun tergerus pengaruh luar
Dengan semua fenomena yang dimilikinya, Kawasan Pusukbuhit layak dikonservasi, artinya pemanfaatan ruang dapat dilakukan secara terbatas dan bijak untuk kelangsungan hidup manusia di sekitarnya.
yang tidak sesuai dengan tatanan tradisional atau kearifan lokal mereka. Padahal, pemahaman terhadap mitigasi bencana dapat direalisasikan dengan mengintegrasikan pola mitigasi tradisional dan modern menjadi satu kesatuan yang memberikan dampak ketaatan masyarakat secara spiritual maupun konseptual. Masyarakat akan memiliki kewaspadaan yang tinggi dalam menghadapi kemungkinan datangnya bencana, tanpa mengurangi rasa aman dan kenyamanan dalam kehidupan sehari-hari.
Begitu pula keberadaan sumber air panas harus memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat setempat melalui pengembangan wisata. Apalagi saat ini kawasan Pusukbuhit banyak menarik minat wisatawan domestik maupun internasional. Dalam hal itu, pengelolaan lingkungannya harus dapat memberikan kenyamanan bagi wisatawan dan keuntungan bagi masyarakat setempat. Dengan gambaran di atas, Gunung Pusukbuhit jelas memiliki nilai warisan geologi (geological heritages) yang terintegrasi dengan warisan budaya (cultural heritages). Itu artinya, masyarakat di Kawasan Pusukbuhit sudah sejak lama membina hubungan harmonis dengan segala potensi alam di sana. Hubungan itu dibakukan dalam berbagai ekspresi baik sebagai sistem sosial, budaya, seni maupun spiritualitasnya. Semua itu dilakukan agar harmonis dengan alam semesta.
Dengan semua fenomena yang dimilikinya, Kawasan Pusukbuhit layak dikonservasi, artinya pemanfaatan ruang dapat dilakukan secara terbatas dan bijak untuk kelangsungan hidup manusia di sekitarnya. Oleh karena itu, pengembangan ideal untuk Kawasan Pusukbuhit adalah pengembangan Taman Bumi Kaldera Toba.

Penulis adalah Penyelidik Bumi Madya, Ketua Dewan Redaksi Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi, dan Ketua Dewan Redaksi Buletin Geologi Tata Lingkungan, Badan Geologi, KESDM.
Read more »

5 Kegiatan Wajib Jika Mengunjungi Pulau Samosir

item-thumbnail

Apa saja yang bisa dilakukan di Pulau Samosir? Banyak hal, mulai dari wisata alam, rekreasi, hingga wisata budaya dan sejarah




Penginapan di Pulau Samosir yang menghadap ke arah Danau Toba.
Biasanya wisatawan yang pelesir ke Danau Toba hanya sekedar tamasya di sekitar Danau Toba terutama di wilayah Parapat. Tak heran memang, di Parapat begitu banyak penginapan yang menghadap Danau Toba. Pilihan lain adalah naik kapal untuk berkeliling seputar Danau Toba. Padahal, coba naik kapal feri dan menyeberang ke Pulau Samosir. Pulau Samosir begitu unik karena berada di tengah-tengah danau vulkanik terluas di Indonesia.

Apa saja yang bisa dilakukan di Pulau Samosir? Banyak hal, mulai dari wisata alam, rekreasi, hingga wisata budaya dan sejarah. Berikut kelima di antaranya.

Menonton Pertunjukan Sigale-gale. Berkunjung ke Kampung tua Huta Bolon. Di sini ada pentas tari Batak tradisional bernama Tari Sigale-gale. Tarian tersebut seperti tari Tor-tor yang diiringi dengan alat musik tradisional. Awalnya, tarian ini dimaksudkan untuk menawar rindu
seorang raja yang kehilangan anaknya. Boneka dibuat menyerupai anak raja yang sudah meninggal. Jadi tak heran boneka Sigale-gale bergerak seperti manusia.

Berkeliling dengan Sepeda Motor. Sangat mudah berkeliling Pulau Samosir. Sebab hanya ada satu jalan utama di pulau ini. Letaknya persis di tepian Pulau Samosir dan melingkar hingga menjadi jalan yang terhubung. Sewa motor di daerah Tomok. Lalu bawa motor untuk berkeliling Pulau Samosir. Sesekali mampir di berbagai tempat yang menarik perhatian Anda. Atau, sekedar menikmati panorama asri Samosir. Sawah, pepohonan, rumah khas Batak, dan tentu saja Danau Toba. Selain motor, bisa juga dengan menumpang bentor atau becak motor.

Melihat Batu Parsidangan. Di Ambarita terdapat pengadilan tradisional suku Batak. Batu-batu melingkar dengan rapi. Usianya sudah ratusan tahun. Di sini Anda akan menemukan tempat eksekusi untuk tahanan hukuman mati.

Berenang di Pantai Pasir Putih. Walau disebut pantai, nyatanya ini bukan laut, melainkan pinggiran Danau Toba. Seperti laut, pinggiran danau dipenuhi pasir putih. Pantai Pasir Putih berada di Desa Parbaba. Hawa sejuk melengkapi nikmatnya berenang dan bersantai di pantai ini. Pantai ini cocok untuk keluarga karena air danau yang tenang menjadi area yang aman untuk anak-anak berenang. Ada beragam sarana di pantai ini. Seperti jetski, banana boat, sampai bebek-bebekan. Sekedar santai berendam, bisa sewa ban.

Makan Mi Gomak. Mi tebal mirip dengan pasta spaghetti. Sementara sausnya selintas mirip rendang. Ciri khas saus untuk mie menggunakan bumbu andaliman. Bersama andaliman, ada pula merica dan jahe, kombinasi yang membuat saus mi ini pedas panas. Cocok dimakan untuk menghangatkan badan. Selain itu, saus juga diberi kelapa yang disangrai. Harumnya kelapa dengan mi kenyal berpadu apik dengan saus yang pedas.
Sumber: kompas.com)
Read more »

Ketika Bumi Berkisah Si Tao Toba dan Si Bukitbarisan

item-thumbnail
"Dasar kau si anak ikan!"



Tiba-tiba Bumi berguncang keras. Gempa bumi besar mengguncang tanah pegunungan itu. Tanah retak merekah memanjang. Segera air menyembur keluar tiada henti-hentinya dari rekahan-rekahan tanah dan batuan. Di atas, mendung gelap menggantung berat di langit pekat. Petir menyambar bumi dengan suaranya yang menggetarkan hati. Hujan pun turun dengan deras terus-menerus. Si Toba baru tersadar, umpatan kepada anaknya Samosir telah membuka rahasia yang seharusnya dijaga ketat tentang asal-usul isterinya yang tadinya ikan besar cantik yang dulu didapatnya.



Penyesalan datang kemudian. Air segera menggenangi lembah tempat si Toba berada dan menenggelamkannya. Begitulah balasan atas ketidaksabaran mengurus anak mereka Samosir yang memang nakal dan rakus makan. Samosir, atas perintah ibunya yang kembali berubah menjadi ikan, berhasil selamat mendaki bukit. Lembah yang tergenang luas itu kemudian berubah menjadi danau, Tao Toba. Bukit tempat Samosir menyelamatkan diri menjadi Pulau Samosir.



Demikianlah legenda Danau Toba yang dikenal pada cerita anak-anak Nusantara. Moral cerita mengingatkan kita untuk selalu sabar mengurus anak dan menjaga kehormatan rumah tangga. Tetapi di balik itu tersirat peristiwa alam yang luar biasa tentang pembentukan Danau Toba. Secara geologis sudah dikenal luas bagaimana danau terluas di Indonesia ini terbentuk melalui peristiwa paroksismalis antara aktifitas pergerakan lempeng tektonik dan letusan-letusan volkanik.



Supervolcano Toba



Jauh dari Toba, di lapisan es yang dingin membeku di Greenland dekat Kutub Utara, pada awal dekade 1970 para ahli geologi glasial dan paleoklimatologi terheran-heran mendapati inti pengeboran es mengandung anomali endapan sulfat yang pasti berkaitan dengan endapan abu gunung api. Ribuan gunung api tersebar di atas Bumi, gunung api manakah yang endapan abunya tersebar hingga Kutub Utara? Hasil penelitian menemukan data yang mencengangkan. Clive Oppenheimer pada 2002 menyatakan anomali tersebut berhubungan dengan abu gunung api yang diendapkan oleh suatu kejadian letusan volkanik 74.000 tahun yang lalu. Endapan dengan umur sama yang lebih tebal dijumpai dari hasil pengeboran dasar laut di Samudera Hindia dan Laut Arab selama akhir 1980-an dan awal 1990-an. Semuanya ternyata berumur setara dengan endapan berwarna putih yang tersebar luas di dataran-dataran tinggi sekeliling Danau Toba. Itulah yang dikenal sebagai tuf Toba (Toba tuffs).



Di jaman prasejarah, 74.000 tahun yang lalu, diperkirakan suatu rangkaian letusan gunung api yang dahsyat telah terjadi di sepanjang retakan pada batas-batas timur laut dan barat daya Danau Toba. R.W. van Bemmelen, seorang ahli geologi Belanda - yang bukunya "The Geology of Indonesia, 1949" selalu menjadi rujukan geologi Indonesia - pada 1929 dan 1939 mengemukakan hipotesis terbentuknya Danau Toba. Menurutnya, suatu pembumbungan bagian tengah Sumatera Utara yang dikenal sebagai "tumor Batak" menjadi cikal bakal terbentuknya Danau Toba. Tumor itu meletus luar biasa dahsyat, gabungan antara proses-proses volkanik dan tektonik, menyebabkan amblesnya bagian tengah tumor tersebut membentuk cekungan memanjang barat laut - tenggara, serarah memanjang Pulau Sumatera, dan juga searah dengan Sesar Besar Sumatera dan Pegunungan Bukitbarisan. Proses itu juga menyebabkan "terungkitnya" sebagian dari amblesan, terangkat naik dengan posisi miring ke arah barat daya, membentuk Pulau Samosir.



Pendapat Bemmelen yang telah bertahan begitu lama sejak 1929 itu akhirnya terbantahkan oleh penelitian geomorfologi yang dikerjakan oleh Verstappen selama 1961 - 1973. Ia mendapati adanya teras-teras struktural di ngarai-ngarai terjal Sei Asahan di Siguragura yang di atasnya terendapkan tuf Toba. Hal itu menunjukkan bahwa Sei Asahan telah terbentuk jauh sebelum letusan dahsyat Toba menurut Bemmelen pada 1929. Artinya, ada kemungkinan cekungan Toba telah ada sebelum letusan supervolcano, atau apa yang dikenalkan oleh Bemmelen sebagai letusan volkano-tektonik. Letusan-letusan besar itu terjadi pada gunung-gunung api yang kemungkinan terjadi pada retakan-retakan dan sesar-sesar yang mengapit gawir-gawir terjal lembah Danau Toba.



Letusan-letusan besar paroksismal menyemburkan abu-abunya hingga ke lapisan-lapisan stratosfer dan disebarkan ke seluruh permukaan Bumi. Endapan tebal tentu saja jatuh di sekitar pusat letusan di sekitar Danau Toba, menghasilkan tuf Toba, batuan berwarna putih dengan butiran-butiran gelas volkanik, fragmen kuarsa, dan matriks gelas berukuran lempung. Kejadian itu tidak berlangsung dalam satu kali saja. Hasil penelitian stratigrafi lapisan tuf Toba dan pengukuran umur absolutnya, menunjukkan adanya lapisan-lapisan tuf hasil letusan sekitar 74.000, 450.000, 840.000, dan 1,2 juta tahun yang lalu, menghasilkan perulangan 375.000 tahun dengan deviasi standar 15.000 tahun (Chesner et al. 1991 dan Dehn et al. 1991, dalam Rampino & Self, 1993).



Rampino dan Self (1993) mencurigai bahwa letusan supervolcano Toba telah menghasilkan letusan abu gunung api sebesar 2.800 km3 setinggi 40 km ke angkasa yang kemudian dapat menyebabkan pendinginan permukaan Bumi secara tiba-tiba. Rampino dan peneliti lainnya menyebut gejala pendinginan global itu sebagai "volcanic winter". Suhu Bumi rata-rata turun 3 - 5oC. Besar kemungkinan letusan 74.000 tahun yang lalu mempengaruhi penghuni Bumi dan manusia saat itu. Secara global diketahui adanya gejala populasi leher botol berkaitan dengan menurun secara drastisnya populasi manusia bertepatan pada waktu 74.000 tahun yang lalu. Di Nusantara, dengan bukti-bukti fosil yang ditemukan di Pulau Jawa, Homo erectus, dan jenis manusia yang lebih modern seperti Manusia Wajak, besar kemungkinan merasakan pengaruh besar letusan dahsyat Toba. Memang, belum ada bukti kuat fenomena Toba menyebabkan kepunahan spesies manusia, tetapi pengaruh perubahan iklim dipastikan mengubah pola kehidupan mereka.



Contoh terdekat perubahan iklim global akibat letusan gunung api adalah setelah letusan Krakatau 1883, dan terutama letusan Tambora pada April 1815 yang 10 kali lebih dahsyat daripada Krakatau 1883. Letusan itu telah menyebabkan suatu fenomena aneh yaitu turunnya salju di bulan Juli di Eropa, sehingga tahun 1815 dijuluki "the year without summer." Tahun-tahun setelah itu menyebabkan kegagalan panen di seluruh dunia akibat kekacauan iklim global.



Awal 2005, suatu pendapat yang akhirnya diakui salah kutip oleh peneliti dari Monash University Australia, Raymond Cas, menyatakan adanya massa magma raksasa di bawah Danau Toba yang siap meletus sebagai supervolcano. Pendapat yang membuat panik ini segera dibantah banyak ahli. Sekalipun massa magma itu memang ada, tetapi letusan dahsyat tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Tentu saja kita tidak berharap adanya letusan paroksismal dari supervolcano Toba, sekalipun fenomena itu dapat menghentikan gejala pemanasan global yang terjadi akhir-akhir ini.



sumut-srtm1

Citra SRTM Sumatera Utara dengan lokasi-lokasi penting yang dirujuk pada tulisan ini



Dalam Ekspedisi Geografi Indonesia VI 2009 di Provinsi Sumatera Utara, tuf Toba teramati ketika sebagian tim memasuki suatu kawasan eksklusif di tepi Danau Toba di Merek yang bernama Taman Simalem Resort. Tempat tersebut berdisain mewah dan apik, dengan suatu plaza persis menghadap ke arah indahnya Danau Toba bagian barat laut. Tempat yang tadinya berstatus hutan lindung itu telah disulap menjadi kawasan wisata mahal, termasuk pembangunan vihara yang sedang dalam tahap penyelesaian.



Lereng-lereng terjadi pada plateau Toba di Merek dipotong dan ditimbun (cut and fill) menjadi pola jalan berliku-liku menghasilkan pemandangan yang eksotis. Vihara ditempatkan di salah satu ujung tanjung dan diapit oleh lereng-lereng terjal. Di sinilah persoalan akan muncul. Lereng-lereng terjal yang didominasi oleh tuf Toba bersifat gembur dan berpasir, serta mudah mengalami denudasi. Gejala-gejala erosi dan longsoran sudah mulai terlihat. Pengembang kelihatan mengerti benar permasalahan yang akan dihadapi. Beberapa dinding penahan dan bronjong batu telah dibangun untuk menahan ketidakstabilan lereng-lerengnya. Pemeliharaan yang nantinya terus-menerus harus terkontrol sehingga akan sangat mahal.



Lain lagi singkapan tuf Toba pada jalan ke arah Sidikalang, melalui Sumbul. Sumbul terletak persis pada garis morfologi memanjang barat laut - tenggara sebagai ekspresi Sesar Besar Sumatera. Garis ini ditempati oleh aliran Lau Renun yang menoreh tajam lembah sungainya. Di lereng Lau Renun yang terjal, tuf Toba yang keras digali sebagai batu bahan fondasi. Sementara itu pada arah yang jauh berseberangan di Doloksanggul - Onanganjang, sebagian besar batuan tuf telah mengalami alterasi. Tanah berwarna kuning, jingga, dan merah menghiasi pinggir-pinggir jalan akibat pengaruh larutan sisa magma pada proses lanjut.



Di Pulau Samosir, tuf Toba yang keras menjadi artefak-artefak peninggalan kerajaan-kerajaan kuno Batak berupa kursi-kursi dan meja altar tempat penyiksaan musuh yang tertawan. Batu-batu kursi tersebut sangat terkenal sebagai objek wisata di Siallagan, Kecamatan Simanindo. Batu tuf keras juga menjadi sarkofagus, tempat menyimpan mayat raja-raja Sidabutar di Tomok, atau patung-patung berhala. Tuf Toba yang saat diletuskan menghancurkan ekosistem sekitarnya, jauh setelah itu ternyata ikut berperan di dalam perkembangan kebudayaan kerajaan-kerajaan Batak tua di sekitar Danau Toba dan Samosir.



Tingkat kekerasan tinggi batuan tuf Toba tidak hanya dijumpai di lereng Lau Renun, Sidikalang, Kabupaten Dairi, atau di Pulau Samosir, tetapi juga tercermin dari air terjun sangat tinggi dan vertikal Sipisopiso di Merek. Apalagi di sepanjang lereng-lereng sangat terjal di ngarai Sei Asahan antara Siguragura dan Tangga, Kecamatan Porsea, Kabupaten Toba Samosir, batuan tuf Toba selintas tampak seperti granit yang perlu beberapa kali pukulan kuat dengan palu geologi untuk memecahkannya.



Sei Asahan sebagai sungai drainase dan tempat keluarnya air Danau Toba yang maksimum berpermukaan 905 m dpl, menggerus secara vertikal dan dalam batuan tuf Toba mengikuti pola-pola retakan tektonik. Anak-anak sungainya masuk ke lembah Asahan sebagai air terjun yang tinggi, menguraikan airnya menjadi embun ketika jatuh menuruni dinding ngarai yang tegak. Aliran Sei Asahan mengarah ke timur laut untuk kemudian berubah menjadi sungai besar di Perhitian, Halado, setelah seluruh airnya keluar dari terowongan PLTA Tangga. Akhirnya sungai ini mengalir bermeander di dataran pantai timur Sumatera Utara, untuk kemudian bermuara sebagai sungai distributary yang berliku-liku pada lingkungan delta di Teluk Nibung, Tanjungbalai. Tempat ini merupakan pelabuhan ramai yang menjadi pintu perairan Selat Malaka bagi kapal-kapal menuju Selangor, Malaysia.



Empat lembar peta geologi di sekitar Danau Toba memetakan dengan jelas sebaran tuf Toba ini (Aldiss dkk. 1983, Aspden dkk. 2007, Cameron dkk. 1982, dan Clarke dkk. 1982). Tuf Toba tersebar jauh ke arah utara, dan dijumpai hingga Pematangsiantar, bahkan mencapai Tebingtinggi. Tidak perlu heran. Jika di tengah-tengah Samudera Hindia saja didapati endapan tuf Toba, jarak ke Tebingtinggi hanyalah jangkauan tidak seberapa bagi suatu letusan super-dahsyat. Ke arah selatan, tuf mengendap mengisi perbukitan dan lembah sepanjang Pegunungan Bukitbarisan sejak Sidikalang di barat laut hingga Tarutung dan Sipirok di tenggara dan selatan.



Tarutung adalah kota kecil yang sangat dikenal oleh para peneliti ilmu kebumian, khususnya yang berkecimpung dalam bidang bencana gempa bumi. Tempat yang dalam bahasa Batak berarti "durian" ini pernah diguncang gempa bumi merusak 6,6 skala Richter pada 27 April 1987. Memang jalur di Bukitbarisan itu adalah jalur retakan dan patahan aktif sepanjang Pulau Sumatera, mulai dari Teluk Semangko di Lampung, menerus ke utara melalui Bengkulu, Kerinci di Jambi, Danau Singkarak dan Padangpanjang di Sumatera Barat, Tarutung - Sidikalang di Sumatera Utara, hingga Bandaaceh.



Ciri morfologi lembah dan perbukitan memanjang sebagai hasil kegiatan tektonik aktif, tampak jelas di Tarutung, tempat Aek Sigeaon mengalir di sepanjang lembah. Kegiatan tektonik aktif yang menghancurkan kekuatan batuan juga mempengaruhi kondisi jalan antara Tarutung dan Sipirok. Di Aek Latong, ruas jalan selalu ambles. Selain karena berada pada jalur sesar aktif, ditambah lagi ada pengaruh batu lempung yang mudah hancur dan rawan longsor.
Retakan-retakan yang terbentuk di sepanjang lembah ini juga menjadi jalan bagi keluarnya air panas. Mata air panas Sipoholon dekat Tarutung yang terukur bersuhu 63,8oC menjadi tempat wisata yang ramai. Air panas Sipoholon keluar dari celah-celah batuan dan menembus tuf Toba. Endapan travertin yang terbentuk akibat air panas menerobos tuf Toba menghasilkan endapan dengan pola-pola yang menarik, berupa bentukan stalaktit dan stalagmit, serta teras-teras endapan travertin.



Ke arah tenggara masih dijumpai mata air dengan gelembung-gelembung udara dengan rasa sedikit asam sehingga penduduk menamakannya "air soda" di Parbubu. Suhu air secara umum relatif hangat, yaitu 31,5oC. Tetapi karena suhu udara juga cukup panas (30,7oC), air soda Parbubu terasa dingin ketika disentuh. Makin ke tenggara, di Sipirok, dijumpai pula mata air panas di Aek Milas Sosopan yang dimanfaatkan oleh masjid setempat sebagai air wudlu. Aek Milas dalam bahasa Batak Sipirok memang berarti "air panas."



Mata air panas di sepanjang Tarutung - Sipirok merupakan mata air panas yang terjadi akibat patahan, sekalipun sumber air panasnya diperkirakan berasal dari sumber-sumber magmatis juga. Hal itu berbeda dengan air panas bersuhu 47,3oC yang terasa ngilu di gigi karena ber-pH sangat asam di Aek Rangat yang terletak di lereng G. Pusukbuhit, dekat Pulau Samosir. Air panas di Aek Rangat sangat jelas berkaitan langsung dengan aktifitas gunung api Pusukbuhit, sama halnya dengan air panas yang juga muncul di Lau Sidebukdebuk, dari lereng G. Sibayak, Tanah Karo



Tanah Batak yang Indah



Pada akhir perjalanan ekspedisi menjelajah Danau Toba dengan sejarah letusannya yang luar biasa serta produk-produk tufnya yang tersebar luas, kesan yang didapat adalah keterpesonaan akan bentang alam yang terbentuk akibat proses-proses alam, proses-proses geologis, tektonik dan volkanik yang berlangsung berribu-ribu tahun. Danau, plateau, gunung, perbukitan, lembah, dan sungai, serta hutan, perkebunan dan masyarakatnya, seluruhnya menyusun alam Sumatera Utara menjadi suatu harmoni alam yang indah. Sangat cocok sekali arti Tapanuli sebagai tapian nauli, daratan yang indah. Jangankan pendatang dari luar yang menjelajah hanya 10 hari di Sumatera Utara, penduduk asli Batak pun masih selalu terkagum-kagum dengan tanah kelahiran mereka.



Bagaimana cintanya orang Batak terhadap tanah kelahirannya, selalu dimisalkan ketika seorang Batak menyanyikan lagu "O Tano Batak" (1933) yang ditulis oleh S. Dis (Siddik Sitompul, 1904 - 1974) dengan sebagian liriknya sebagai berikut:



O Tano Batak halolonganhu...
O Tano Batak sinaeng hutahap,
dapot honon hu, tano hagodangan hi

(Oh Tanah Batak yang selalu kurindukan...Oh Tanah Batak yang selalu kutatap, kuingin selalu pulang kampung ke tanah kelahiran).



Seberapa keras watak orang Batak, matanya akan berkaca-kaca, bahkan mungkin menangis tersedu-sedu, saat menyanyikan lagu tersebut. Apalagi ketika datangnya perasaan rindu kampung halaman saat sedang jauh merantau.
O Tano Batak, aku pun selalu ingin kembali menikmati keindahanmu...

Sumber: Ekspedisi Geografi Indonesia Sumatera Utara 2009 (Bakosurtanal - Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional).
Read more »

Danau terbesar di Indonesia


  1. Danau Toba di Sumatera Utara (Luas: 107.216 Ha). Danau ini begitu tersohor bahkan hingga ke mancanegara. Ia merupakan danau vulkanik terbesar di Indonesia bahkan Asia Tenggara. Uniknya, tepat pada bagian tengan danau toba ini terdapat pula vulkanik yang dikenal dengan nama Pulau Samosir. Sejak dahulu, danau toba sudah dikenal sebagai salah satu destinasi wisata paling penting di Sumatera Utara. Di danau toba ini ada banyak jenis rekreasi yang bisa pengunjung coba.

  2. Danau Towuti di Sulawesi Tengah (Luas: 59.840 Ha). Danau yang satu ini secara administrative berada di wilayah Kecamatan Towuti, Luwu Timur Sulawesi Selatan. Danau ini masuk ke dalam titik Taman Wisata Danau Tuwoti yang dikelola lembaga bernama BKSDA atau Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Selatan. Lembaga ini menjalankan fungsinya di bawah Kementrian Kehutanan Republik Indonesia.

  3. Danau Sentani di Papua (Luas : 34.375 Ha). Danau yang satu ini merupakan yang terbesar di Papua. Ia juga sekaligus menjadi kawasan wisata terpopuler di sana. Danau sentani ini setiap tahunnya menjadi lokasi pelaksanaan berbagai festival yang terkenal di Papua.

  4. Danau Poso di Sulawesi Tengah (Luas : 34.280 Ha). Danau di Indonesia terbesar selanjutnya terletak di Provinsi Sulawesi Tengah. Ia berada di ketinggian 657 meter di atas permukaan laut. Danau ini memang belum banyak dikelola oleh Pemerintah Daerah. Tapi, keelokannya tetap memukau siapa saja yang pernah mengunjunginya.

  5. Danau Matana di Sulawesi Selatan (Luas : 16.640 Ha). Danau yang satu ini berada di Sorako Kabupaten Luwu Utara Sulawesi Selatan. Danau ini memiliki kedalaman hingga 590 meter.


 
Read more »

Explore Samosir-Toba

item-thumbnail

Explore Samosir-Toba

  d'Traveler - Minggu, 29/01/2012 16:06:48 WIB
detikTravel Community -  Danau Toba merupakan danau vulkanik terbesar di Asia Tenggara, di tengah-tengah danau ini terdapat Pulau yang Menawan, yaitu Pulau Samosir
  samosir.jpg
Read more »

Danau Toba, Terindah dan Terbesar di Indonesia

item-thumbnail

Danau Toba, Terindah dan Terbesar di Indonesia

Girzhang Tony - d'Traveler - Kamis, 08/03/2012 10:58:00 WIB
detikTravel Community -  Sepertinya tidak lengkap jika mengunjungi Sumatera Utara, tapi tidak singgah di Danau Toba. Danau terbesar di Indonesia ini menyuguhkan pemandangan yang sangat indah di sekelilingnya.
Danau Toba atau yang dalam bahasa Batak dikenal dengan nama Tao Toba ini merupakan danau terbesar di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara. Tak tanggung-tanggung, danau dengan panjang 100 km dan lebar 30 km ini berada di beberapa kabupaten di Sumatera Utara, yaitu Kabupaten Simalungun, Samosir, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Karo, dan Dairi.
Rasa lelah perjalanan mengunjungi danau akan terbayar saat mata sulit untuk terpejam karena keindahan danau yang menakjubkan. Setelah puas menikmati keindahan danau dari satu sisi, yaitu di kawasan Tuk-tuk, perjalanan kami lanjutkan ke Hot Spring. Tak ada bedanya, semua lokasi di sini sangat indah!
Tepi Tao Toba
Read more »

Tanpa Jembatan Ini, Tidak Ada Itu Pulau Samosir!

item-thumbnail

Tanpa Jembatan Ini, Tidak Ada Itu Pulau Samosir!

Fitraya Ramadhanny - detikTravel - Jumat, 30/08/2013 08:01 WIB
Samosir - Semua orang mengenal Samosir sebagai pulau di tengah Danau Toba. Namun, ada wisatawan yang tidak tahu kalau Pulau Samosir terhubung dengan Sumatera lewat sebuah jembatan. Tanpa jembatan itu, tak ada sebutan Pulau Samosir.

Betul! Wisatawan tidak hanya bisa pergi ke Pulau Samosir menggunakan perahu. Ada jalan darat menuju Pulau Samosir lewat daerah Pangururan, di Kabupaten Samosir. Sumatera dengan Pulau Samosir bisa dihubungkan melalui jembatan bernama Tano Ponggol.

Jembatan ini panjangnya tidak sampai puluhan kilometer, melainkan sekitar 20 meter saja. detikTravel mendatangi jembatan ini disela-sela rangkaian acara Garuda Photo Contest pada Rabu (28/8/2013). Jembatan ini adalah satu-satunya jalan darat ke Pulau Samosir.

"Kalau tidak ada jembatan ini, tidak ada itu namanya Pulau Samosir!" kata Pakdian Simbolon (33), warga setempat dalam obrolan dengan detikTravel.

Rupanya, dahulu Pulau Samosir berada dalam satu daratan dengan Pulau Sumatera, berbentuk sebuah tanjung di Danau Toba. Bagian paling sempit dari Samosir adalah di Pangururan, lebarnya hanya sekitar 300 meter. Warga dulu menyeret perahu agar bisa pindah ke sisi Danau Toba yang satunya, daripada harus memutari Samosir.

Nah menurut Pakdian, penjajah Belanda lantas membangun kanal sungai untuk mempertemukan kedua sisi Danau Toba. Perahu bisa lewat dari satu sisi Danau Toba, ke sisi lainnya tanpa memutari Samosir. Dengan kanal itu, terputuslah sudah Samosir dengan dataran Sumatera dan bisa dikatakan telah resmi menjadi sebuah pulau.

"Nggak ada Belanda, nggak jadi ini sungai dan jembatan," kata Pakdian.

Ucapan Pakdian dibenarkan Mahan Sitanggang (53) yang lebih tua. Menurut Mahan, tanah di Pangururan dikeruk Belanda pada 1913 dengan kerja paksa. Maka, jadilah sebuah kanal. Untuk menghubungkan kedua daratan, dibangunlah Jembatan Tano Ponggol.

"Tano Ponggol artinya tanah yang dipenggal, diputus. Tadinya ada tanah, kemudian berubah jadi sungai dan putuslah tanah (Samosir) ini dengan Sumatera," jelas Pakdian.

Dulu jembatan ini hanya menggunakan kayu untuk waktu yang cukup lama. Namun kini Jembatan Tano Ponggol sudah dibeton. "Dulu kayu sekarang dibeton. Dibetonnya tahun 1982," kata Mahan.

Namun, untuk sebuah jembatan yang sangat penting, Jembatan Tano Ponggol tidak terlihat istimewa. Jalanannya berupa aspal kasar, plang besi jembatan ada yang putus dan sungai di bawahnya terlihat mengalami pendangkalan akibat endapan lumpur.

"Iya ini pemdanya tidak jelas. Mestinya sungai ini dikeruk jadi perahu-perahu besar bisa lewat," kata Mahan berkeluh-kesah.

Untuk mencapai jembatan ini, wisatawan dari Medan bisa menaiki mobil angkutan semacam Elf yang disebut Sampri. Sampri sebenarnya nama operator anngkutan itu. Sampri jurusan Medan (Padang Bulan) - Pangururan akan mengantar penumpang dengan perjalanan selama 6 jam dengan ongkos Rp 55.000 per orang.

Seiring matahari terbenam, saya pun meninggalkan Jembatan Tano Ponggol. Sayang sungguh sayang, jembatan seunik ini hanya dibiarkan menjadi menjadi jembatan kampung belaka.

Padahal, dengan perbaikan infrastruktur jalan, sungai dan jembatan, Tano Ponggol bisa dikemas menjadi objek wisata yang menarik. Bayangkan, jembatan sependek ini bisa menghubungkan Pulau Samosir nan luas dengan daratan Sumatera di Danau Toba. Luar biasa!
Read more »
Older Posts
Home